Bahasa Isyarat menjadi materi utama dalam kegiatan pelatihan inklusi sosial yang digelar khusus bagi para relawan muda dan aktivis kemanusiaan daerah. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman serta keterampilan komunikasi relawan saat berinteraksi dengan para penyandang disabilitas rungu dalam berbagai kegiatan sosial. Melalui penguasaan abjad isyarat, ekspresi wajah, serta kosa kata dasar, para relawan diharapkan mampu menjadi jembatan komunikasi yang ramah dan inklusif. Langkah nyata ini diambil guna meruntuhkan tembok hambatan komunikasi sosial di tengah warga masyarakat.
Dalam sesi pelatihan yang berlangsung interaktif tersebut, para peserta dibimbing langsung oleh instruktur tuli profesional yang berpengalaman di bidang komunikasi inklusif. Para relawan diajarkan cara menyampaikan informasi, mendengarkan, serta memahami struktur tata bahasa isyarat secara tepat dan alami tanpa rasa canggung. Setiap peserta diberikan kesempatan untuk mempraktikkan langsung kemampuan komunikasi mereka melalui simulasi percakapan harian serta penanganan kondisi darurat. Semangat dan antusiasme tinggi ditunjukkan oleh para relawan muda sepanjang kegiatan pelatihan berlangsung.
Pihak penyelenggara yayasan menjelaskan bahwa penguasaan sarana komunikasi non-verbal ini sangat penting bagi para relawan bencana dan pekerja kemanusiaan di lapangan. Dalam situasi darurat bencana atau kegiatan pelayanan publik, keberadaan relawan yang mampu berbahasa isyarat sangat dibutuhkan untuk membantu warga difabel rungu. Pelatihan ini merupakan bentuk komitmen yayasan dalam mewujudkan lingkungan masyarakat yang ramah disabilitas, setara, dan tidak membeda-bedakan hak komunikasi warga. Akses informasi yang setara merupakan hak bagi setiap warga negara.
Para relawan muda mengaku mendapatkan wawasan dan pengalaman baru yang sangat berharga melalui pelatihan inklusi komunikasi yang diselenggarakan ini. Mereka merasa lebih percaya diri dan peka terhadap kebutuhan teman-teman difabel rungu saat beraktivitas di ruang-ruang publik bersama. Pelatihan ini membuka mata para pemuda mengenai pentingnya empati sosial dan kebiasaan saling menghargai keberagaman dalam kehidupan bermasyarakat. Jaringan relawan inklusif ini nantinya akan diterjunkan dalam berbagai program pendampingan sosial di daerah.
Penyelenggaraan pelatihan bahasa isyarat bagi para relawan muda ini membuktikan peran aktif Yayasan ABM dalam memperjuangkan kesetaraan dan inklusivitas sosial di tengah masyarakat. Pihak yayasan berencana akan menjadikan pelatihan komunikasi inklusif ini sebagai agenda rutin bagi setiap anggota relawan baru yang bergabung. Mari kita dukung bersama setiap upaya penciptaan lingkungan masyarakat yang inklusif, ramah, dan ramah bagi teman-teman disabilitas. Komunikasi yang tanpa batas akan mempererat tali persaudaraan dan kebersamaan kita semua.
