Dari Guru Menjadi Fasilitator: Pergeseran Peran Pendidik di Kelas Abad Ke-21
Di era informasi digital, di mana setiap pengetahuan dapat diakses melalui ujung jari, model pengajaran tradisional yang menempatkan guru sebagai satu-satunya sumber ilmu telah usang. Kelas abad ke-21 menuntut adanya Pergeseran Peran Pendidik yang radikal, dari figur penceramah (sage on the stage) menjadi fasilitator pembelajaran (guide on the side). Pergeseran Peran Pendidik ini bukanlah degradasi, melainkan peningkatan kompleksitas tugas, menuntut guru untuk merancang pengalaman belajar yang mendorong siswa berpikir kritis, berkolaborasi, dan memecahkan masalah. Pergeseran Peran Pendidik menjadi kunci untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan yang belum pernah ada sebelumnya di pasar kerja global.
Bukan Lagi Sumber Utama, Tapi Pemandu Arah
Dahulu, nilai seorang guru diukur dari seberapa banyak informasi yang ia berikan. Kini, dengan adanya internet, peran tersebut telah diambil alih oleh mesin pencari. Pergeseran Peran Pendidik kini fokus pada mengajari siswa bagaimana cara memproses informasi, bukan sekadar menghafalnya. Guru menjadi kurator pengetahuan, yang bertugas menyaring banjir informasi dan memandu siswa menuju sumber-sumber yang kredibel dan relevan.
Dalam sebuah pelatihan implementasi Kurikulum Merdeka yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan pada 15 Januari 2025, para guru diwajibkan menyusun rencana pembelajaran yang 70% di antaranya berbasis aktivitas, bukan ceramah. Kegiatan pembelajaran diarahkan pada diskusi kelompok, proyek penelitian, dan pemecahan kasus, di mana guru hanya berfungsi sebagai supervisor yang memberikan pertanyaan panduan (guiding questions).
Mendorong Kolaborasi dan Keterampilan Lunak
Seorang fasilitator ulung memahami bahwa pembelajaran sosial adalah fundamental. Guru harus menciptakan lingkungan kelas yang mendorong kolaborasi, di mana siswa belajar dari satu sama lain dan bukan hanya dari guru. Dalam proses ini, guru berperan aktif dalam membangun keterampilan lunak (soft skills), seperti komunikasi, negosiasi, dan kepemimpinan, yang sangat dicari oleh perusahaan di masa depan.
Misalnya, seorang guru mata pelajaran Ekonomi di SMA X menerapkan sistem student-led seminar, di mana setiap kelompok siswa bertanggung jawab penuh untuk mengajar bab tertentu. Tugas guru di sini adalah mengamati dinamika kelompok, memberikan feedback pada proses kolaborasi, dan menilai bagaimana siswa menjelaskan konsep yang kompleks dengan cara yang sederhana. Penguatan keterampilan ini penting, mengingat data tenaga kerja menunjukkan bahwa kemampuan berkolaborasi kini mendudai peringkat teratas dalam kriteria perekrutan.
Personalisasi dan Feedback Konstruktif
Guru sebagai fasilitator juga bertanggung jawab untuk mempersonalisasi pengalaman belajar. Mereka harus mampu mengidentifikasi kebutuhan belajar unik setiap siswa dan menyediakan tantangan yang sesuai dengan tingkat kesiapan mereka. Ini berbeda dari model lama di mana semua siswa mendapatkan materi yang sama persis. Fasilitator memberikan umpan balik yang konstruktif dan berkelanjutan, berfokus pada proses perbaikan diri siswa, bukan sekadar nilai akhir. Dengan memimpin siswa melalui eksplorasi pengetahuan dan menyediakan alat yang tepat untuk navigasi, pendidik memastikan bahwa proses belajar menjadi pengalaman yang bermakna dan relevan bagi setiap individu.
