Membekali Anak dengan Literasi Keuangan: Cara Mendidik Generasi Muda Jadi Investor Cerdas
Di era di mana akses informasi dan produk keuangan semakin mudah, kemampuan mengelola uang tidak lagi cukup hanya dengan menabung. Generasi muda saat ini harus dibekali dengan keterampilan yang lebih mendalam, yaitu Literasi Keuangan yang kuat, agar kelak mampu menjadi investor yang cerdas dan bertanggung jawab. Literasi Keuangan bukan sekadar pelajaran matematika di sekolah, melainkan filosofi hidup yang mengajarkan nilai-nilai penting seperti menunda kepuasan, membuat anggaran, dan memahami konsep risiko-imbal hasil. Penanaman Literasi Keuangan sejak dini adalah investasi terbaik yang dapat diberikan orang tua dan sekolah demi masa depan finansial anak yang stabil.
Strategi pertama untuk mengajarkan Literasi Keuangan adalah melalui simulasi dan praktik nyata di rumah. Orang tua dapat mengenalkan konsep anggaran dengan memberikan uang saku mingguan atau bulanan yang harus dikelola sendiri oleh anak. Misalnya, seorang anak kelas 6 SD diberi uang saku Rp 50.000 per minggu. Ia harus memutuskan berapa banyak yang akan dibelanjakan untuk jajan, berapa yang ditabung, dan berapa yang dialokasikan untuk membeli barang yang diinginkan di akhir bulan. Melalui proses uji coba ini, anak belajar konsekuensi dari keputusan finansialnya; jika ia menghabiskan uangnya terlalu cepat (pengeluaran), ia akan kesulitan mencapai tujuan tabungannya.
Aspek kedua dari Literasi Keuangan adalah mengenalkan konsep investasi sejak dini. Ini dapat dilakukan melalui simulasi pasar saham atau dengan mengajarkan konsep bagi hasil. Misalnya, orang tua dapat menjanjikan “bunga” tambahan 10% setiap akhir bulan untuk setiap uang yang ditabung anak, meniru imbal hasil investasi. Untuk remaja SMA, diskusi mengenai instrumen investasi yang riil, seperti saham blue chip atau reksa dana, dapat dimasukkan. Berdasarkan hasil survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2024, tingkat Literasi Keuangan di kalangan usia 15–25 tahun masih tergolong rendah di angka 58%, yang menekankan pentingnya intervensi pendidikan sejak SMP dan SMA.
Terakhir, penting untuk mengajarkan tentang utang dan risiko. Anak muda sering terpapar oleh kemudahan kredit dan pay later di dunia digital. Orang tua harus menjelaskan perbedaan antara utang konsumtif dan utang produktif, serta bahaya bunga majemuk. Pendidikan yang menyeluruh tentang Literasi Keuangan ini, yang dikombinasikan dengan contoh-contoh praktis, akan mempersiapkan generasi muda untuk menavigasi kompleksitas dunia finansial, mengubah mereka dari sekadar konsumen menjadi investor yang bijak dan berpandangan jauh ke depan.
