Menjembatani Kesenjangan: Tantangan Mendidik Generasi Muda dengan Empati di Tengah Perbedaan Sosial dan Digital

Di era hiper-konektivitas dan polarisasi sosial yang semakin nyata, Tantangan Mendidik Generasi muda dengan nilai-nilai empati menjadi semakin kompleks, terutama di tengah kesenjangan sosial dan digital yang meluas. Generasi muda saat ini terekspos pada berbagai realitas kehidupan—mulai dari kemewahan yang diunggah di media sosial hingga kesulitan ekonomi yang dijumpai di lingkungan sekitar—yang dapat memicu perceived inequity (persepsi ketidakadilan) dan mengurangi kemampuan mereka untuk berempati terhadap pengalaman orang lain. Empati, yang didefinisikan sebagai kemampuan untuk memahami dan berbagi perasaan orang lain, adalah fondasi untuk kohesi sosial dan kewarganegaraan yang bertanggung jawab. Namun, studi dari Center for Social Development Studies pada tahun 2024 menunjukkan adanya penurunan signifikan dalam skor empati afektif di kalangan remaja usia 13-17 tahun, sebuah tren yang mengkhawatirkan.

Kesenjangan sosial-ekonomi menciptakan gelembung pengalaman yang terpisah. Anak-anak yang tumbuh di lingkungan berkecukupan mungkin kesulitan memahami perjuangan teman sebaya yang harus bekerja paruh waktu atau berjuang untuk mengakses fasilitas pendidikan yang layak. Hal ini diperparah oleh kesenjangan digital (digital divide). Generasi yang memiliki akses penuh ke teknologi dan internet memiliki perspektif yang berbeda dengan mereka yang terbatas aksesnya, yang hanya mengandalkan gawai bekas atau jaringan internet yang tidak stabil—seperti yang sering terjadi di daerah pedesaan di Jawa Timur, menurut laporan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) per Desember 2024. Perbedaan akses dan pengalaman ini menambah Tantangan Mendidik Generasi muda untuk melihat melampaui pengalaman pribadi mereka.

Lebih lanjut, ruang digital seringkali menjadi tempat berkembang biaknya cyberbullying dan bahasa yang merendahkan, karena anonimitas dan jarak fisik menghilangkan hambatan emosional. Ketika interaksi didominasi oleh teks atau emoji, isyarat non-verbal yang penting untuk memicu empati (seperti ekspresi wajah atau nada suara) hilang. Guru dan orang tua menghadapi Tantangan Mendidik Generasi untuk menerapkan “Aturan Emas” (Golden Rule) di dunia maya: memperlakukan orang lain online sebagaimana mereka ingin diperlakukan secara offline. Untuk mengatasi ini, Sekolah Menengah Umum (SMU) Bhinneka Tunggal Ika pada tahun ajaran 2025/2026 telah mengimplementasikan program ‘Literasi Empati Digital’, yang mencakup sesi studi kasus mingguan tentang dampak ujaran kebencian dan cyberbullying di media sosial.

Strategi praktis untuk menjembatani kesenjangan dan meningkatkan empati adalah melalui pembelajaran pengalaman (experiential learning). Daripada hanya membaca tentang kemiskinan atau diskriminasi, sekolah dan komunitas harus memfasilitasi proyek layanan masyarakat yang bermakna. Misalnya, kegiatan sukarela di panti asuhan atau pusat bantuan bencana, yang memungkinkan siswa dari latar belakang berbeda bekerja bersama untuk tujuan yang sama, dapat menciptakan jembatan pemahaman. Program mentoring silang di mana siswa dari sekolah swasta berinteraksi dan berkolaborasi dengan siswa dari sekolah negeri di kawasan berbeda juga terbukti efektif dalam memecahkan stereotip dan membangun koneksi emosional.

Pada akhirnya, Tantangan Mendidik Generasi muda dengan empati di tengah perbedaan sosial dan digital memerlukan pendekatan holistik. Ini menuntut orang tua untuk menjadi teladan empati di rumah, dan sekolah untuk secara eksplisit mengajarkan kecerdasan emosional dan keterampilan perspektif mengambil, menjadikan empati sebagai keterampilan hidup yang sama pentingnya dengan literasi dan numerasi.