Fenomena keuangan yang melanda Generasi Z belakangan ini sering kali memunculkan pertanyaan: mengapa banyak dari mereka menghadapi kesulitan finansial? Artikel ini akan mengungkap penyebab utama di balik masalah tersebut, dengan fokus pada efek Fear of Missing Out (FOMO). Di era digital, FOMO bukan lagi sekadar tren psikologis, melainkan pendorong signifikan yang memicu kebiasaan belanja impulsif dan gaya hidup konsumtif, yang pada akhirnya menguras dompet Gen Z.
FOMO adalah penyebab utama yang mendorong Gen Z untuk belanja secara berlebihan. Paparan tak henti di media sosial menampilkan kehidupan “sempurna” teman sebaya, influencer, atau figur publik yang seolah-olah selalu menikmati pengalaman terbaik, memiliki barang terbaru, dan bepergian ke tempat-tempat menarik. Tekanan untuk tidak ketinggalan, untuk menjadi bagian dari tren, atau untuk mempertahankan citra tertentu, sangat kuat. Akibatnya, banyak Gen Z merasa terdorong untuk mengeluarkan uang demi membeli tiket konser, outfit viral, atau gadget terbaru, meskipun sebenarnya mereka tidak membutuhkannya atau bahkan tidak mampu secara finansial. Sebuah survei yang dilakukan oleh startup konsultan finansial, “FinPlan Indonesia”, pada Mei 2025 mengungkapkan bahwa 60% Gen Z di perkotaan mengakui pernah membeli barang di luar anggaran karena melihat postingan di media sosial.
Gaya hidup konsumtif yang berakar dari FOMO ini menciptakan siklus pengeluaran yang sulit dihentikan. Gen Z mungkin kesulitan menabung, padahal menabung adalah fondasi esensial untuk masa depan keuangan yang stabil. Mereka cenderung mengutamakan pengalaman dan kepemilikan yang bersifat instan, alih-alih merencanakan keuangan jangka panjang. Akibatnya, dana darurat seringkali kosong, dan banyak yang terjerat utang konsumtif dari kartu kredit atau pinjaman online berjangka pendek. Utang ini, dengan bunga yang seringkali tinggi, menjadi beban yang menghambat mereka mencapai kemandirian finansial.
Untuk mengungkap penyebab utama dan mengatasi masalah ini, Gen Z perlu meningkatkan literasi finansial mereka. Ini berarti belajar membuat anggaran yang realistis, memprioritaskan kebutuhan di atas keinginan, dan mengembangkan kebiasaan menabung yang disiplin. Penting juga untuk mempraktikkan “JOMO” (Joy of Missing Out), yaitu menemukan kebahagiaan dalam melewatkan tren yang tidak relevan dengan kondisi finansial. Membatasi waktu di media sosial atau menyaring konten yang memicu konsumerisme juga bisa menjadi langkah efektif. Dengan kesadaran dan disiplin, Gen Z dapat mengungkap penyebab utama kesulitan keuangan mereka dan mulai membangun fondasi finansial yang lebih kokoh.
