Di era digital yang serba cepat ini, perlindungan anak dari kekerasan daring menjadi tanggung jawab bersama. Oleh karena itu, diperlukan Peran Aktif Generasi dari semua pihak, mulai dari orang tua, guru, hingga komunitas, untuk menciptakan lingkungan daring yang aman dan positif bagi anak-anak. Ancaman kekerasan daring, seperti cyberbullying, penipuan, hingga eksploitasi, semakin kompleks dan menuntut kewaspadaan serta tindakan proaktif.
Fenomena kekerasan daring bukanlah hal baru, namun intensitas dan variasi bentuknya terus bertambah seiring dengan penetrasi internet yang semakin luas. Sebuah laporan dari UNICEF pada tahun 2023 menunjukkan bahwa hampir 1 dari 3 anak di Asia Tenggara pernah mengalami kekerasan siber. Angka ini menegaskan betapa krusialnya Peran Aktif Generasi dalam membendung laju ancaman ini. Kita tidak bisa lagi hanya menjadi penonton; tindakan nyata diperlukan.
Lantas, bagaimana wujud Peran Aktif Generasi dalam melindungi anak dari kekerasan daring? Pertama, edukasi menjadi fondasi utama. Orang tua dan pendidik perlu membekali anak-anak dengan literasi digital yang memadai. Ini mencakup pemahaman tentang privasi daring, risiko berbagi informasi pribadi, serta cara mengenali dan melaporkan konten atau perilaku yang mencurigakan. Misalnya, pada hari Kamis, 15 Mei 2025, dalam sebuah lokakarya yang diadakan di Pusat Komunitas Anak di Surabaya, para pakar keamanan siber dari institusi kepolisian memberikan materi tentang cara aman berselancar di internet kepada puluhan orang tua dan anak-anak.
Kedua, bangun komunikasi yang kuat dan terbuka. Anak-anak harus merasa nyaman untuk berbagi pengalaman mereka di dunia maya, baik yang menyenangkan maupun yang mengkhawatirkan. Dorong mereka untuk bercerita jika menghadapi perundungan atau ancaman daring. Peran Aktif Generasi juga berarti menjadi pendengar yang empatik dan tidak menghakimi. Jika anak melaporkan insiden kekerasan daring, segera ambil tindakan, entah itu memblokir akun yang mengganggu, melaporkan ke platform terkait, atau jika perlu, melibatkan pihak berwajib seperti kepolisian.
Ketiga, libatkan seluruh komunitas. Sekolah, lembaga keagamaan, dan organisasi masyarakat dapat berkontribusi dalam menyebarkan kesadaran dan menyelenggarakan program-program edukasi. Misalnya, sebuah program “Netizen Cerdas” yang digagas oleh sebuah lembaga swadaya masyarakat di Yogyakarta telah berhasil melatih ratusan remaja untuk menjadi duta keamanan siber di lingkungan sekolah mereka. Dengan demikian, Peran Aktif Generasi ini menjadi gerakan kolektif yang melibatkan semua elemen masyarakat dalam menjaga anak-anak kita dari bahaya kekerasan daring.
