Fenomena kesenjangan harta antargenerasi telah menjadi topik perbincangan hangat di berbagai belahan dunia. Studi kasus yang paling menonjol sering kali melibatkan perbandingan antara generasi Baby Boomer (individu yang lahir antara tahun 1946 dan 1964) dan generasi Milenial (mereka yang lahir antara tahun 1981 dan 1996). Di tengah serangkaian badai ekonomi yang melanda dunia, disparitas kekayaan antara kedua kelompok ini semakin mencolok, memunculkan pertanyaan tentang keadilan ekonomi dan peluang masa depan.
Generasi Baby Boomer memiliki keuntungan besar karena memasuki pasar kerja pada masa pertumbuhan ekonomi global yang pesat dan stabil. Mereka menikmati akses yang lebih mudah ke pendidikan terjangkau, harga properti yang relatif rendah, dan pasar saham yang booming. Faktor-faktor ini memungkinkan mereka untuk mengakumulasi tabungan, membeli rumah, dan berinvestasi dalam jangka panjang, sehingga membangun fondasi kekayaan yang kokoh. Hasilnya, mereka kini menjadi kelompok demografi dengan aset terbesar. Sebuah laporan dari lembaga riset keuangan global pada Oktober 2024 menunjukkan bahwa Baby Boomer di banyak negara menguasai lebih dari 60% total kekayaan pribadi.
Sebaliknya, generasi Milenial menghadapi lanskap ekonomi yang jauh lebih menantang. Mereka memasuki usia produktif di tengah atau setelah krisis finansial global 2008, yang diikuti oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi, lonjakan inflasi, dan, yang terbaru, dampak pandemi COVID-19. Harga properti yang melambung tinggi, biaya pendidikan yang kian mahal, dan pertumbuhan upah yang stagnan telah menghambat kemampuan mereka untuk menabung atau berinvestasi secara signifikan. Akibatnya, mereka seringkali tertinggal jauh dalam hal akumulasi aset, memperlebar kesenjangan harta antargenerasi.
Kesenjangan harta antargenerasi ini tidak hanya sekadar statistik, tetapi juga memiliki implikasi sosial yang luas. Banyak Milenial yang menunda keputusan hidup penting seperti menikah, memiliki anak, atau membeli properti karena tekanan finansial. Hal ini dapat memengaruhi pertumbuhan populasi, stabilitas sosial, dan pola konsumsi dalam jangka panjang.
Meskipun demikian, beberapa ekonom berpendapat bahwa Milenial dan Generasi Z masih memiliki peluang untuk membangun kekayaan di masa depan, terutama melalui transfer kekayaan dari generasi sebelumnya dan pertumbuhan sektor ekonomi baru seperti ekonomi hijau dan digital. Namun, untuk mengurangi kesenjangan harta antargenerasi secara berarti, diperlukan kebijakan pemerintah yang proaktif dalam mengatasi inflasi, menstabilkan pasar properti, dan memberikan akses lebih baik ke pendidikan dan peluang kerja yang layak bagi generasi muda.
